ANGKONA, LUWU TIMUR – 25 Juni 2026_ – Panas matahari belum lunas membakar aspal Angkona ketika Camat Angkona, Putu Gede Sudarsana, SKM., M.Kes, sudah berdiri di halaman Pabrik Kelapa Sawit PT. Teguh Wira Pratama. Kunjungannya bukan kunjungan seremonial. Ia datang membawa satu pesan yang sudah lama ditunggu petani: awasi timbangan, jaga harga, jangan main-main dengan rezeki rakyat.
Langkah Camat Angkona itu adalah tindak lanjut langsung dari Edaran Bupati Luwu Timur Nomor 500.2/203/BUP tanggal 11 Juni 2026. Edaran itu tegas. Seluruh pembelian Tandan Buah Segar di Luwu Timur wajib mengikuti standar harga yang ditetapkan pemerintah. Soal potongan timbangan, edaran itu juga melarang keras perusahaan menaikkannya seenak sendiri. Sebab setiap gram yang dicuri dari timbangan, sama artinya dengan memotong keringat petani di kebun.
Berhadapan dengan manajemen TWP, Camat Angkona tidak berpanjang kata. Pemerintah hadir bukan untuk mematikan usaha perusahaan, tapi untuk memastikan kemitraan berjalan adil. Adil artinya petani tahu harga dasarnya berapa, transparan artinya komponen potongan dijelaskan satu per satu, dan saling menguntungkan artinya pabrik jalan, petani sejahtera. Ia meminta perusahaan membuka semua kartu. Standar mutu TBS seperti apa, dasar penilaiannya apa, dan kenapa potongan itu harus ada. Semua harus terang, jangan abu-abu.
“Pemerintah Kecamatan Angkona bersama instansi terkait akan turun langsung. Kami awasi agar pelaksanaan pembelian TBS benar-benar mengacu aturan dan menghormati hak petani. Transparansi dan komunikasi yang baik itu kunci kepercayaan,” tegas Camat Putu Gede di hadapan jajaran manajemen.
Pantauan di lapangan menunjukkan roda PKS TWP berputar normal. Asap cerobong mengepul, truk hilir mudik. Dari sisi perusahaan, Humas TWP menyampaikan komitmen patuh pada edaran bupati dan terus meningkatkan koordinasi dengan petani. Ada kabar baik yang patut diapresiasi. Perusahaan mengaku sudah menyiapkan layanan jalur prioritas khusus di luar antrean umum. Jalur ini dikhususkan untuk pickup dan dumptruk milik petani lokal Luwu Timur dengan kapasitas muatan di bawah 5 ton. Artinya petani kecil tak perlu lagi berjam-jam terperangkap antrean panjang.
Pemerintah Kecamatan Angkona memastikan pengawasan ini tidak berhenti hari ini. Pemantauan dan koordinasi akan dilakukan secara berkala. Tujuannya satu, menciptakan tata niaga TBS yang sehat, berkeadilan, dan berkelanjutan. Karena sawit di Angkona bukan sekadar komoditas. Ia adalah denyut nadi ribuan keluarga. Dan denyut itu harus dijaga, dari kebun sampai ke atas timbangan pabrik.
@red











